KENANGAN PADA AYAH:
RESIKO POLISI

Bersama Ayah (alm) di depan tangga pintu rumah, Asrama Polisi di Siak sekitar tahun 1956/1957. (Ist)
AYAH saya seorang polisi. Beruntung saya punya dokumen foto ketika kecil bersama Ayah yang mengenakan seragam dinas polisi kala itu. Foto di tangga depan pintu tempat tinggal kami di Asrama Polisi, di Siak Sri Indrapura. Ketika itu (sekitar tahun tahun 1956/1957) saya benar-benar merasa sebagai 'anak kolong'. Karena memang demikianlah keadaannya. Asrama Polisi yang semua dindingnya terbuat dari kayu itu merupakan rumah panggung yang panjang. Karena rumah panggung, maka di bagian bawah ada kolongnya.
Saya tentu bangga sebagai anak polisi, walau tinggal di asrama sederhana, berbentuk rumah panggung yang memanjang itu.
Ditinju Orang Ngamuk
Oh iya, ada cerita yang membuat saya benar-benar bangga sebagai anak polisi.
Suatu hari (mungkin di hari Minggu), saya diajak Ayah jalan-jalan ke pusat kota Siak, di kawasan pusat pertokoan yang tak seberapa luas. Tiba-tiba, di kawasan itu ada seorang lelaki muda yang mengamuk, meninju dan memukul orang-orang yang ada di sekitarnya. Keributan pun terjadi.
Karena berada di jarak yang dekat dengan lokasi lelaki itu mengamuk, naluri Ayah sebagai polisi membuatnya mengambil keputusan untuk segera bertindak. Meski sedang tidak mengenakan seragam dinas polisi, Ayah dengan cepat menyeruak, masuk ke area keributan, dan meninggalkan saya yang kebingungan (dan tentu juga ketakutan) sendiri.
Masih melekat di ingatan, nasib Ayah ketika itu tak terlalu mujur. Mungkin Ayah kurang hati-hati. Begitu Ayah mencoba mendekat untuk menenangkan si pelaku, ayunan tinju dari lelaki yang mengamuk itu ternyata lebih dulu menghentak di dagunya. Ayah terhuyung beberapa langkah ke belakang, dan hampir terjatuh.
Saya melihat Ayah mempersiapkan diri kembali untuk menghadapi lelaki yang mengamuk itu. Dan, saya tahu persis, Ayah ketika itu membawa pistol yang diselipkan di balik bajunya. Tapi ia tetap dengan tangan kosong berusaha untuk menenangkan atau mengamankan lelaki yang mengamuk itu.
Singkat cerita, lelaki yang mengamuk itu bisa diamankan Ayah. Begitu berhasil diamankan, orang-orang di sekitar yang semula jadi korban amukan lelaki itu, seperti serentak berusaha memukul dan meninju lelaki tersebut. Ayah pun terlihat berusaha keras melindungi lelaki itu dari amukan orang-orang yang semula jadi korban amukannya.
Gunakan Tangan Kosong
Demikianlah, Ayah berhasil mengamankan lelaki yang ngamuk itu, dan berhasil pula mengamankannya dari amukan massa. Ketika itu (bahkan hingga kini), saya tidak tahu mengapa dan karena apa lelaki muda itu mengamuk. Apakah ia sedang marah dan tersinggung dengan seseorang atau orang lain? Atau dia seseorang yang jiwanya sedang terganggu? Stres, defresi? Entahlah, pikiran masa kecil saya ketika itu tak mampu mencernanya. Yang saya tahu, hanya Ayah berhasil mengamankannya. Mengamankannya dengan tangan kosong, tanpa bantuan pistol yang terselip di pinggangnya.
Ya, mengamankannya dengan tanpa kekerasan. Dan justru melindunginya pula dari amukan orang lain. Ketika peristiwa itu saya ceritakan kepada Ibu di rumah, Ibu dengan santainya bilang, "Itulah resikonya jadi polisi."
( Sutirman Eka Ardhana)